YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Sabtu, 03 November 2012

Laporan TEMPO - Tsunami 2004



Nasional
Pantai Cermin, Sumatera Utara Porak Poranda Disapu Tsunami
Minggu, 26 Desember 2004 | 20:41 WIB
TEMPO Interaktif, Medan:Puluhan perahu nelayan di kawasan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagei, Sumatra Utara (70 km dari Medan), porak poranda dilanda gelombang pasang tsunami akibat gempa tektonik yang berpusat di Meulaboh, Aceh Barat.

Gelombang pasang yang datangnya tiba-tiba menelan korban jiwa empat orang nelayan yang perahunya tenggelam dihantam ombak yang menggulung setinggi delapan meter. Gelombang pasang itu menghantam pecah perahu mereka, dan perahu yang ditambatkan di pantai pun tak luput dari hantaman gelombang pada Minggu, 26/12.

Gelombang tsunami membuat gulungan ombak setinggi
delapan meter ini membuat pantai yang biasanya
dikunjungi wisatawan menjadi kacau balau dan
pengunjung langsung naik dari pantai menyelamatkan
diri. Akibat gelombang ini, keempat nelayan baru
ditemukan tiga mayat yang terbenam di lumpur di
kawasan Pantai Kuala Putri.

Menurut pengakuan Amat,40, nelayan yang selamat dari
amukan gelombang tsunami, kalau dirinya sangat terkejut
melihat gulungan ombak dari tengah laut yang
menghantam perahunya. Selama sekitar tiga jam ia
bersama rekannya dimainkan gelombang seperti sabut
kelapa. Kondisi ini bukan membuat ia merapat ke
pantai, tapi langsung melawan ombak menuju ke tengah
laut. "Kalau kami mengikuti gelombang ke tepi pantai,
kami akan digulung dan tenggelam. Ini yang melanda
empat teman kami yang tenggelam. Selama tiga jam kami
berjuang melawan ombak setinggi 8 meter, sebelum bisa
merapat ke pantai,kami sampai tak bisa lagi melihat
pantai karena tingginya gelombang. Padahal kami tak
jauh dari pantai,"katanya.

Menurut Edrin seorang sumber yang dihubungi Tempo di lokasi kejadian, kondisi pantai menjadi porak poranda dan bangkai poerahu berserakan di sepanjang pantai. Kondisi pantai, sampai malam ini masih mencekam dan upaya pencarian terhadap korban nelayan yang tenggelam masih dilakukan. Sementara ombak saat ini masih setinggi
satu meter. "Kondisi pantai masih labil dan ombak atau
gelombang selalu naik turun. Pantainya rusak dan
perahu hancur berserakan,"kata Edrin, Minggu malam (26/12).

Bambang Soed/Hambali Batubara
Sumatera Utara
Penyebab Gempa: Tumbukan Lempengan di Dasar Samudera
Minggu, 26 Desember 2004 | 12:59 WIB
TEMPO Interaktif, Medan: Gempa Bumi tektonik mengguncang wilayah Sumatera bagian Utara, Aceh dan Sumatera Utara, Minggu (26/12). Gempa berkekuatan 5,6 skala richter yang terjadi sekitar pukul 8.00 WIB, berlangsung kurang lebih selama 5 menit.

Menurut Hendra Suharta, Kepala Kelompok Analisa BMG wilayah I Sumbagut Medan, pusat gempa terjadi 66 kilometer di bagian selatan kota Meulaboh Aceh Barat, tepatnya di pantai barat Sumatera, Samudera Indonesia. "Atau 3,61 lintang utara dan 96,28 BT," ucap Hendra, di kantornya, BMG wilayah I Medan, Minggu siang (26/12).

Gempa ini terjadi akibat terjadi tumbukan lempengan indo Australia dan Euro Asia "Ini murni karena gejala alam," ucap Hendra.

Hendra menambahkan, gempa ini menyebabkan kerusakan di beberapa kota Meulaboh seperti jembatan rusak dan tiang listik patah. Getaran juga dirasakan di beberapa daerah di Sumatera Utara dengan skala yang berbeda.

Di Medan, Gunung Sitoli, Prapat, Pangkalan Susu, getaran gempa dirasakan sangat kuat dengan skala II-IV MMI (Modifield Mereal Intensity) yang mengakibatkan getaran sangat kuat di luar maupun di dalam ruangan. Sementara itu, berdasarkan catatan BMG Wilayah I, di Maulaboh sendiri, terjadi getaran dengan skala V-VI MMI.

Menurut Muhammad Zaki, penduduk Pangkalan Susu, yang berada di tepi pantai, 300 KM dari kota Maulaboh yang dihubungi Tempo mengatakan, getaran gempa menyebabkan benda-benda di dalam maupun di luar ruangan bergoyang. Penduduk setempat juga berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri. "Pot bunga sampai bergoyang dan penduduk ada pusing karena terlalu lama digoyang gempa," ucap Zaki.

Hambali Batubara, Bambang Soed
Nasional
Sejarah Tsunami di Indonesia
Minggu, 26 Desember 2004 | 19:07 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Gempa yang terjadi Lautan India dengan kekuatan 6,8 skala Richter, Minggu (26/12) pagi, termasuk gempa yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara, memicu terjadinya gelombang tsunami di beberapa negara Asia.

Gelombang tsunami ini diperkirakan paling banyak menelan korban jiwa. Setidaknya korban meninggal di Aceh dan Sumatera Utara, serta beberapa negara Asia lainnya seperti Sri Lanka, India, dan Thailand telah mencapai ribuan orang.

Korban akibat gempa dan gelombang tsunami di Indonesia sendiri, hingga berita ini diturunkan, masih belum bisa dipastikan. Namun hingga pukul 17.30 WIB, Badan Koordinasi Nasional mencatat, ada sekitar 148 meninggal dunia. Sedangkan jumlah korban luka dan hilang belum diketahui.

Bencana gempa dan tsunami di Indonesia tidak hanya terjadi kali ini. Sebelumnya, peristiwa serupa telah terjadi berkali-kali dan menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit. Gelombang tsunami yang menyebabkan korban jiwa paling banyak dilaporkan saat terjadi peristiwa letusan gunung berapi Krakatau pada 1883. Saat itu diperkirakan 36 ribu jiwa meninggal akibat letusan gunung yang mengakibatkan ombak setinggi bangunan 12 tingkat. Ombak akibat letusan gunung yang terletak di Selat Sunda itu mencapai sekitar 120 kilometer dari pusat letusan.

Pasca meletusnya Krakatau, setidaknya sejak selama periode 1900-1996, setidaknya telah terjadi 17 bencana tsunami besar di Indonesia. Lima belas di antaranya terjadi di Kawasan
Timur Indonesia, yang memang dikenal sebagai daerah seismotektonik aktif dan kompleks. Tsunami tersebut diakibatkan oleh aktivitas kegempaan yang terdapat pada zona-zona seismmotektonik aktif seperti zona subduksi, zona bukaan, dan zona sesar yang tersebar di hampir seluruh kepulauan di Indonesia.

Gelombang besar tsunami yang juga menelan korban yang tidak sedikit terjadi pada 19 Agustus 1977 di daerah Sumba. Dalam peristiwa ini sekitar 189 nyawa melayang. Lalu, peristiwa serupa terjadi pada 12 Disember 1992 di Flores. Gelombang besar ini mengakibatkan 2.100 nyawa melayang. Peristiwa tumpahnya air laut yan melanda kawasan Banyuwangi Jawa Timur pada 3 Juni 1994 menelan korban tewas hingga 208 orang.

Lima bencana tsunami (Banda 1938, Sigli 1967, Bandanaira 1975, Sumba 1977, dan Banyuwangi 1994) itu diakibatkan aktivitas zona subduksi Sunda-Banda yang terletak memanjang dari Kepulauan Andaman sampai ke Laut Banda.

Aktivitas zona sesar naik yang terletak memanjang dari utara Bali sampai ke Alor menghasilkan tiga tsunami di Ende 1908, Larantuka 1982, dan Flores 1992. Tsunami-tsunami yang terjadi di Tinambung 1967, Sulteng 1968, Majene 1969, dan Mamuju 1984 diakibatkan aktivitas zona
bukaan yang terletak di Selat Makassar.

Aktivitas zona sesar Palu-Koro dan sesar Sorong yang melalui Palu, utara Pulau Buru sampai ke selatan Biak telah mengakibatkan empat bencana tsunami yang terjadi di Teluk Tomini 1938, Sana Maluku 1965, Sanana Maluku, 1975 dan Toli-Toli 1996.

Sementara itu tsunami yang terjadi baru-baru ini di Biak, diperkirakan akibat aktivitas sesar
Sorong atau subduksi lempeng Carolina.

Bencana tsunami yang terjadi di Indonesia diakibatkan gempa-gempa dangkal dan kuat yang terjadi di dasar laut. Gempa-gempa tersebut mempunyai kedalaman bervariasi antara 13 sampai 95 km, magnitudo 5,9 sampai 7,5 SR, intensitas gempa antara VII sampai IX dalam skala MMI (Mo-dified Mercalli Intensity), dan jenis pensesaran gempa yang dominan adalah sesar naik.

Tinggi gelombang tsunami maksimum yang mencapai pantai berkisar antara empat sampai 24 meter, dengan magnitudo tsunami berkisar antara 1,5 sampai 4,5 dalam skala Imamura. Sementara itu, jangkauan gelombang tsunami ke daratan berkisar antara 50 sampai 200 meter dari garis pantai.

Danto (dari berbagai sumber) - Tempo
Nasional
PLN mulai Aktifkan Listrik Di Meulaboh
Sabtu, 01 Januari 2005 | 12:44 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sjak tadi malam (31/12) mengaktifkan aliran listrik di Kota Meulaboh. “ Tapi masih terbatas untuk alat-alat kesehatan dan komunikasi,” kata Marojahan Batubara, Humas PT PLN Pembangkit dan Penyalur Listrik Untuk Sumatera bagian Utara di Lanud TNI AU Polonia Medan.

Marojahan mengatakan, kemarin (31/12) telah diberangkatkan 1 unit genset berkekuatan 2,5 kwh ke Meulaboh. Marojahan menambahkan, PLN batal memberangkatkan genset dengan kapasitas 5 Kwh karena keterbatasan alat angkut. Sehingga rencana semula untuk memberi penerangan di beberapa posko, termasuk di posko pengunsi kantor Bupati, urung dilakukan. Genset tersebut diterbangkan dengan helikopter Chinox bantuan Singapura yang punya kapasitas 20 ton.

Sampai saat ini (1/1), PLN belum bisa memprediksi jenis dan berapa besar kerusakan jaringan listrik di kota Meulaboh. “Yang pasti, untuk memperbaikinya kami memerlukan waktu lama,” ucap Marojahan. Sementara itu, ditempat terpisah ketika dihubungi tempo, Monang Sirumapea, General Manager PLN Pembangkit dan Jaringan (Pilkitring)Wilayah Sumatera Utara dan Aceh mengatakan, kendala utama perbaikan instalasi listrik di Meulaboh adalah pengangkutan peralatan. “Kita masih kesulitan untuk mendapatkan pesawat yang bisa membawa genset ke wilayah pesisir Aceh yang paling parah terkena dampak gempa dan tsunami,” ucap Monang.

Selama ini, kata Monang, daya listrik yang terpasang di wilayah Meulaboh dan sekitarnya mencapai 1,5 MW. Namun, dalam situasi seperti ini, PLN berencana membawa genset dengan kapasitas terbatas terlebih dulu. Apalagi semua sarana listrik rusak total dan kehidupan belum bergulir sebagaimana biasanya.

Bambang Soed dan Hambali Batubara 

--------



Anak Saya Teriak Abi, Abi, Air Sudah Datang
3 Januari 2005

TEMPO Interaktif, Jakarta. Dr. Husni (40), Dosen Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Bersama dua orang anaknya, Husni selamat. Namun isteri dan seorang anaknya belum ditemukan. Anak bungsunya yang berumur satu tahun ditemukan tidak bernyawa lagi di dekat reruntuhan rumahnya. Dr. Husni tinggal di kawasan Ajun, dua kilometer dari pantai Krueng Raya, Banda Aceh. Berikut penuturannya kepada wartawan Tempo Bambang Soed dan Hambali di Bandara TNI-AU Kelapa Sawit, Polonia, Medan:

"Seperti biasa hari Minggu, saya di rumah. Tiba-tiba terjadi gempa dan saya sempat azan, namun gempa juga belum selesai. Anak-anak sempat mau buang air, lalu saya bawa ke mesjid, karena tidak berani ke rumah takut roboh. Mesjid letaknya 100 meter dari rumah. Tiba-tiba datang gempa susulan. Bersama itu ada yang teriak banjir. Istri saya lari dengan kedua anak saya yang lain. Kedua anak yang saya bawa ini ada di tangan saya. Air membawa saya ke atas loteng. Anak saya yang satu dibawa loteng. Anak saya berteriak abi, abi. Namun air sudah di atas kami. Kami tenggelam waktu itu. Tiba-tiba ada yang menarik kami, tidak tau siapa. Kami akhirnya berada di lantai dua, sebuah bangunan yang baru dibangun didekat rumah saya.

Di saat itu, saya melihat ada sebuah mobil yang terbawa air. Saya tahu itu mobil teman saya. Kemudian lambat laun mobil itu tenggelam dalam pandangan saya. Kita lihat semua sudah jadi laut. Waktu juga tetap terjadi gempa. Satu jam kemudian kami turun karena dirasa sudah aman. Di sana kami langsung ke jalan yang lebih tinggi. Disanalah saya dihantam kayu. Kemudian dari jalan ini kami menuju tempat pengungsian sementara.

Saya bingung, karena kata orang kumpul di mesjid. Sementara saya sudah punya dua anak. Dengan kaki pincang dan dua anak saya tentu susah mencari istri saya. Anak ini menjerit-jerit. Senin kemarin, saya bawa anak saya ke tempat saudara di Blang Bintang. Tempat ini tidak parah terkena gempa.

Setelah saya titipkan anak saya, saya kembali ke rumah saya untuk melihat kondisi. Rumah saya rusak berat. Tidak jauh dari situ, saya temukan anak bungsu saya sudah menjadi mayat. Kemudian saya kuburkan di dekat rumah saudara saya di Blang Bintang. Keluarga saya di Aceh 100 orang dan yang pasti selamat 12 orang. Orang tua saya juga hilang."
__________________________________________________
Militer Singapura 'Menyerah', Militer AS Berkuasa
17 Januari 2005

TEMPO Interaktif, Medan. Singapura tidak merasa kecil hati dan merasa telah berbuat banyak dalam misi kemanusiaan membantu korban gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatra Utara. Tim Singapura beberapa saat kejadian langsung turun dan berkordinasi dengan militer Indonesia, terutama Angkatan Udaranya untuk memasok bantuan ke wilayah terisolir dengan transportasi udara. Masuknya Amerika, dianggap mempermudah bagian kerja tim militer Singapura, dan tidak ada hubungannnya dengan penarikan tiga helikopter Chinoox kembali ke pangkalannya di Singapura.

Menurut Brigjen N Goh, Komandan Operasi Militer Singapura yang bermarkas di Hotel Novotel Medan, Jalan Cirebon, Senin sore,17/01, menjawab Tempo, usai menerima kedatangan Marsekal Muda TNI M. Basri Sidehabi. "Tidak, kami tidak berkecil hati. Kami sebelumnya telah mempunyai hubungan baik dengan TNI, sehingga ketika mereka membutuhkan, kami langsung membantu," katanya.

Dengan peristiwa ini juga, kami semakin erat. Saat ini Singapura menarik beberapa peralatannya bukan karena itu, kami lebih menekankan apa yang sangat dibutuhkan rakyat.

Goh, juga menegaskan kalau militer Singapura terpanggil untuk membantu transportasi udara. Mereka memfokuskan ke Meulaboh karena wilayah itu sulit dijangkau dan terisolir dengan korban yang dahsyat. "Kami di sini sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Militer datang tanggal 26 bulan lalu dengan helikopter karena sangat dibutuhkan untuk droping ke daratan Meulaboh," katanya.

"Ketika semuanya mulai berjalan dengan baik, dimana semua akses Meulaboh sudah mulai terbuka. Makanya pemerintah Singapura membuat kebijakan baru untuk mengirim lebih banyak NGO daripada militer untuk membantu rakyat Meulaboh. Keberadaan kami dua minggu sudah dapat menggambarkan apa yang sangat dibutuhkan di Meulaboh," lanjutnya.

Sementara itu, Komandan Satgas Udara yang merupakan Koordinator Tugas Militer Asing, Marsekal M.Basri Sidehabi menyatakan sangat berterimakasih kepada Singapura yang telah mengirimkan bantuan helikopter Chinoox dalam membantu daerah-daerah terisolir karena tidak dapat didarati kapal-kapal dan ditempuh dari darat. "Indonesia berterima kasih sekali kepada Singapura atas bantuannya melakukan "jembatan udara" membantu logistik wilayah bencana dan evakuasi pengungsi selama dua minggu terakhir ini. Selain membantu bidang kesehatan di Meulaboh," katanya.

Seperti penjelasan tadi, Sidehabi menjelaskan pengurangan pasukan dan helikopter Singapura karena Meulaboh mulai normal dan sudah bisa ditempuh melalui darat dan laut. "Kita melihat Meulaboh sudah normal dan nantinya pasukan Singapura diganti dengan NGO/Red Cross dari Singapura," katanya. (Bambang Soed)
--------------------


Nasional
Akibat Tsunami Aceh, Belum Diketahui Nasib Ratusan Anggota TNI dan Brimob
Senin, 27 Desember 2004 | 16:19 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Banda Aceh masih mencekam. Jalan-jalan raya masih
disesaki tumbangan pepohonan dan puing-puing bangunan. Dan yang membuat
bencana ini kian mengerikan adalah masih putusnya jalur komunikasi ke Banda
Aceh.

Menurut Suryatin, Direktur PT Telekomunikasi Indonesia Bidang Fixed Line
kepada Noffi Triana Firman dari TEMPO, Senin (27/12) belum dapat ditentukan
berapa lama waktu yang diperlukan untuk memperbaiki Sentra Telepon Otomat
(STO), hingga arus komunikasi dari dan ke Aceh dapat lancar kembali.

"Semua itu tergantung situasi," katanya, walau begitu menurut Suryatin,
Telkom mengupayakan segala langkah yang bisa diambil untuk memperbaikinya.
Termasuk melakukan koordinasi dengan pihak PT PLN dan Pertamina untuk
mempercepat perbaikan STO tersebut.

Sementara itu, menurut seorang anggota TNI Angkatan Udara yang juga Anggota
Tim TNI AU yang dikirim ke Aceh, kepada TEMPO, Senin (27/12) di Medan
menyatakan hingga kini masih banyak kesimpang-siuran jumlah korban yang
belum ditemukan.

Sampai saat ini, menurut sumber TEMPO tadi, yang masih belum terdeteksi
keberadaannya antara lain 1.500 orang peserta lomba jalan kaki 10k di Krueng
Raya, Banda Aceh yang hilang tersapu ombak. Juga 400 personil TNI yang
sedang melakukan latihan raiders di kompleks pelabuhan lama Ulele, Banda
Aceh dan sekitar 500 personel Brimob yang ada di Aceh hilang saat apel pagi
di Banda Aceh.

Menurut Kepala Dinas Penerangan Umum Mabes TNI, Kolonel Ahmad Yani Basuki,
sebanyak empat pucuk senjata dan empat kendaraan rusak berat akibat gempa
dan gelombang pasang tsunami. Yani membantah soal hilangnya ratusan pasukan
TNI dan sejumlah kendaraan perang yang hanyut akibat bencana ini.

"Kalau jumlahnya sampai ratusan kita sudah geger. Tidak benar itu," kata
Yani ketika dihubungi TEMPO, Senin, (27/12). Yani memastikan hingga siang
ini jumlah korban dari anggota TNI sebanyak 12 orang tewas dan tujuh
dinyatakan hilang. Sementara anggota keluarga TNI yang didata meninggal
dunia sebanyak 44 orang dan dinyatakan hilang 5 orang. Sementara untuk
kendaraan rusak berat dan hilang yang terdata oleh Mabes TNI adalah tiga
kendaraan dinas dan jip CJ 7.

Dan hingga sore ini (27/12), menurut Kabag Humas Aceh Utara Azhari Hasan,
sebanyak 30 ribu warga Aceh menyebar menjadi pengungsi. Keberadaan para
pengungsi tersebut beada disejumlah titik seluruh kecamatan Aceh Utara.
Titik-titik pengungsian meliputi Kecamatan Seunundon, Panton Labu,
Lhoksukon, Santalira Bayu, Simpang Dama, Kecamatan Samudra Gedong, Mibong,
dan Muara Batu.

Bambang Soed dan Hambali Batubara (Medan), Imran MA (Lhokseumawe), Bernarda
Rurit (Jakarta)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar